![]() |
| Ilustrasi Gambar dari AI |
Sebuah pembahasan menarik dari Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Sabrang MDP mengenai teman yang justru sering menyedot energi kita.Dalam chanel Youtubenya yakni Sabrang MDP official Beliau menjelaskan tentang salah satu tipe teman yang harus di jaga jarak pertemanannya, sampai kita sendiri siap membantu dan siap menahan supaya kita tidak terjebak ikut ke jurang yang sama, sehingga kita pun akhirnya kehilangan energi untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Begini kira-kira isi videonya.
Pernah nggak sih kamu ngerasa capek banget setelah ngobrol atau nongkrong bareng salah satu temen? Padahal cuma duduk santai sambil ngopi, tapi pas pulang ke rumah rasanya energimu kayak habis diperas sampai kering. Kalau kamu familier dengan kondisi ini, bisa jadi kamu lagi berhadapan sama orang yang punya vibes mirip black hole—alias si penyedot energi.
Di dalam salah satu videonya, Sabrang MDP membedah fenomena psikologis unik di balik tipe orang yang hobi banget mengeluh dan memposisikan dirinya sebagai korban abadi, atau istilah kerennya Everlasting Victim.
Yuk, kita bahas isi kepalanya si "korban abadi" ini biar kamu nggak gampang kena mental drain!
Orang dengan tipe everlasting victim ini selalu menganggap diri mereka adalah korban dari segala situasi yang terjadi di dunia. Di pikiran terdalamnya, mereka merasa cuma jadi figuran atau NPC (non-playable character) yang takdirnya emang cuma buat menderita. Kasarnya, mereka sengaja "memotong taring dan cakarnya sendiri" agar terlihat tidak berdaya dan punya alasan untuk terus dikasihani.
Nah, cara kerja atau operating system otak si everlasting victim ini punya beberapa ciri khas atau red flags yang sering bikin kita geleng-geleng kepala:
Hobi Menyalahkan Faktor Luar: Kalau mereka gagal, miskin, atau ngalamin hal buruk, respons pertamanya pasti menyalahkan lingkungan, sistem, atau orang lain. Mereka anti banget yang namanya ambil tanggung jawab pribadi. Kenapa? Karena kalau mereka bertanggung jawab dan ternyata gagal, ego mereka bakal hancur karena ketahuan kalau mereka emang nggak kompeten.
Senjatanya Adalah "Superioritas Moral": Karena merasa nggak berdaya buat menang secara nyata dalam kehidupan, mereka bakal mencari kemenangan lewat standar moral. Contoh gampangnya: "Ya wajar jabatan dia naik, kan dia hobi cari muka ke bos. Kalau aku mah orangnya jujur dan lurus, makanya gini-gini aja." Intinya, mereka selalu nyari celah kesalahan orang lain biar diri mereka kelihatan lebih suci.
Terjebak dalam Lingkaran "Iya, Tapi...": Pernah ngasih solusi konkret ke temen yang lagi curhat, tapi selalu didebat balik? Orang tipe ini kalau dikasih saran apa pun pasti bakal jawab, "Iya sih, tapi kan...". Mereka sebenarnya nggak butuh jalan keluar, mereka cuma butuh divalidasi kalau hidup mereka itu paling malang.
Juara Bertahan di "Olimpiade Penderitaan": Tipe ini paling nggak mau kalah kalau urusan sengsara. Kalau kamu cerita lagi pusing karena kerjaan menumpuk, mereka bakal bales dengan penderitaan mereka yang jauh lebih parah dan dramatis. Pokoknya, piala orang paling menderita harus tetap mereka yang pegang.
Pura-Pura Nggak Bisa (Weaponized Incompetence): Sengaja berlagak nggak becus atau bikin salah pas ngerjain sesuatu biar tugas itu dialihkan ke orang lain. Ujung-ujungnya, mereka terhindar dari tanggung jawab kerjaan dengan alasan "kan aku masih belajar".
Suka Guilt Tripping (Bikin Orang Merasa Bersalah): Kalau keinginan mereka nggak dituruti—misalnya kamu nggak bisa minjemin duit atau nggak bisa nemenin jalan—mereka bakal mengeluarkan kalimat manipulatif yang bikin kamu merasa berdosa banget, seolah-olah kamu adalah temen yang jahat.
Mungkin bakal muncul pertanyaan di benakmu, "Bukannya temen kayak gitu justru lagi kesusahan dan harus kita tolong ya?"
Sabrang mengingatkan, kalau kamu merasa punya kewajiban moral buat menyelamatkan atau mengubah semua orang, hati-hati, bisa jadi kamu lagi kena Savior Complex (sindrom merasa diri sebagai pahlawan). Menolong orang itu boleh banget, tapi syarat utamanya adalah orang tersebut emang punya niat buat dibantu keluar dari masalahnya. Sementara si everlasting victim ini cuma pengen enerjimu kesedot buat nemenin mereka di zona nyaman kegagalan mereka.
Bayangin dirimu kayak sebuah teko air. Kamu nggak bakal bisa menuangkan air ke cangkir orang lain kalau tekomu sendiri aja kosong melompong. Menghindar atau menjaga jarak bukan berarti kamu jahat atau sombong, tapi itu adalah langkah bijak buat menyelamatkan kesehatan mentalmu sendiri sampai kamu benar-benar kuat, atau sampai mereka sendiri yang emang siap buat berubah.
Kesimpulan
Nongkrong dan berteman itu tujuannya buat saling bertukar energi positif, seru-seruan, dan tumbuh bareng. Jangan biarkan dirimu ikut terseret jatuh ke bawah oleh orang-orang yang emang malas buat bangkit dan pengen bikin semua orang di sekitarnya ikut ngerasa gagal.
Pilih lingkaran pertemananmu dengan bijak, tetap fokus pada growth mindset, dan mulailah melakukan sesuatu yang berdampak positif buat masa depanmu. Bukan berarti kita cuma mau berteman dengan orang tertentu saja, maksud dari video ini adalah kita harus tahu batas obrolan di lingkup pertemanan dari sifat dan karakter teman kita. Misalnya sedang ada masalah, ya jangan sampai ngobrol dengan orang yang everlasting victim tapi carilah teman yang bisa membantu mencarikan solusi. Jika Sebaliknya, makan berposisilah memberi solusi, jika masih berbelit-belit dengan "Ya, Tapi...." lanjutannya anggap dia sedang bercerita dan tidak perlu ikut memikirkan terlalu dalam, toh solusi juga sudah kita tawarkan.
Sumber Video:

0 Komentar